13 tahun pasca reformasi

Lepas dari era orde baru menuju era baru yaitu era reformasi, sejumlah pemimpin pun sudah silih berganti memimpin negeri ini. Berawal dari naiknya B.J Habibi menggantikan presiden sebelumnya Soeharto yang lengser setelah hampir 32 tahun memimpin lalu naiknya KH Abdurahman Wahid atau yang lebih senang dipanggil Gus Dur setelah memalui proses pemilu yang pertama setelah masa reformasi dan masa kepemimpinan Gus Dur pun tak bertahan lama dan digantikan oleh wakilnya Megawati Soekarno Putri. Dipemilu tahun 2004 kita mendapatkan pemimpin yang baru yaitu Susilo Bambang Yudhoyono/ SBY yang akhirnya juga terpilih kembali di tahun 2009 dan ini berarti periode kedua dari kepemimpinan SBY dan dimana Dia tidak bisa mengajukan diri lagi dalam pencalonan presiden berikutnya.
Dari sejumlah pergantian pemimpin tidak banyak yang berubah dari negeri ini sejak bendera reformasi dikibarkan. Tidak banyak yang berubah dari perekonomian, politik dan hukum. Yang ada justru makin banyak kemiskinan,pengangguran, hukum yang tidak adil dan korupsi yang makin terkuak dan tanpa penyelesaian yang seharusnya. Pemerintah mengatakan bahwa perekonomian kita kuat hingga kita menjadi salah satu negeri yang tidak mengalami keguncangan ekonomi dari dampak ambruknya perekonomian negara adiadaya Amerika Serikat dan data peningkatan perekonomian kita pun dinilai oleh pemerintah cukup memuasakan. Tetapi yang di butuhkan masyarakat bukanlah data statistik atau pun penilaian dari para pakar atau para pengamat melainkan dampak nyata yang ingin dirasakan masyarakat. Tidak dapat dipungkiri pengangguran dan kemiskinan telah menjadi masalah bagi negeri ini saat ini. Kebijakan yang diambil pemerintah yang banyak menguntungkan para pengusaha besar seperti sistem outsourcing yang banyak merugikan para pekerja yang akhirnya banyak para pekerja tidak memiliki masa depan yang jelas dan akhirnya menciptakan pengangguran.
Dari segi politik saya melihat negeri ini masih di isi oleh para pemimpin yang hanya haus kekuasaan dan kekayaan. Bagi – bagi kekuasaan dan korupsi telah identik dengan pejabat kita saat ini. Kita lihat saja dari tampuk pemimpinan instansi – instansi penting dalam pemerintah hampir semuanya sangat berbau politik, baik itu untuk menjaga kekuasaan agar tetap di tangan atau pun untuk bagi – bagi kekuasaan karena telah ikut andil dalam melanggengkan sang pemimpin ke tampuk kepemimpinan. Budaya korupsi pun telah menjadi akar permasalahan negeri ini. Coba saja kita liat pemberitaan di media masa saat ini banyak sekali pemberitaan mengenai pejabat yang korup dan tidak main – main pejabat yang terlibat pun pejabat – pejabat penting setingkat menteri atau pun petingi suatu partai. Dari segi penegakan hukum yang seharusnya para penegak hukum bergerak membasmi para koruptor pun malah ikut terlibat di dalamnya dan membuat hukum pun menjadi tidak jelas di negeri ini. Hukum pun tampak sudah memihak di negeri ini yaitu memihak mereka yang punya uang dan kekuasaan. Hukum pun bisa di kendalikan kalau kita punya uang dan bagi masyarakat kecil yang tak punya hukum pun menjadi suatu yang menakutkan dan tidak lagi menjadi tempat yang nyaman bagi si miskin untuk “berteduh” dari suatu perkara. Inilah yang saya lihat dari perkembangan negeri ini semejak meneriakan reformasi dan meneriakan untuk perubahan bagi bangsa ini, tapi memang benar berubah yaitu hanya berubah kepemimpinannya saja tidak kesejahteraannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s